Rabu, 18 Maret 2009

Filsafat Dalam Perspektif Sejarah

Kesadaran manusia tentang sejarah telah dimulai sejak adanya filosof yang

berpikir mengenai sejarah, perkembangan bangsa, dan pembangunan. Beberapa

ahli filsafat Yunani Kuno telah melakah maju dengan berpendapat bahwa arus

sejarah yang simpang siur itu sebetulnya berdasar sebuah rencana yang masuk

akal (Meullen, 1987: 24). Marcus Tullius Cicero menyebut Herodotus sudah

berusaha menjaring sumber-sumber yang dapat dipercaya dan berusaha dengan

jujur untuk mencapai kebenaran (Pospoprodjo, 1987: 10). Namun demikian

istilah filsafat sejarah baru untuk pertama kali dikemukakan oleh Voltaire (1694-

1778) (Lowith, 1970: 1).

Ungkapan filsafat sejarah secara tradisional berarti usaha memberikan

keterangan atau tafsiran yang luas mengenai seluruh proses sejarah (Gardiner,

1985: 123). Filsafat sejarah tidak hanya berusaha untuk memahami masa lampau

dalam perspektif masa kini, akan tetapi juga berusaha untuk membuat suatu

proyeksi ke masa depan. Dengan memahami ketiga dimensi waktu itu, seorang

filosof filsafat sejarah berusaha untuk memahami perkembangan sejarah

kemanusiaan secara untuh.

Perbincangan mengenai messianisme tidak dapat dipisahkan dari filsafat

sejarah. Filsafat sejarah yang dalam istilah lain disebut dengan historisitas.

Historisitas dalam filsafat Barat menjadi agenda penting pemikiran modern dan

dianggap sebagai langkah evaluatif untuk menemukan cakrawala yang membuka

pemahaman tentang masa depan. Historisitas berkaitan erat dengan kreatifitas

manusia dan iventifitas, serta sudah merupakan ciri khas eksistensi. Historisitas

tidak hanya merupakan ciri khusus jaman modern, akan tetapi juga sudah dialami

oleh jaman sebelumnya. Namun demikian historisitas tidak selalu dialami dengan

cara yang sama dalam setiap periode sejarah. Pada jaman modern manusia lebih

insaf akan historisitas dibandingkan dengan jaman sebelumnya (Bertens, 1987:

186). Manusia jaman modern dalam memahami historisitasnya lebih dinamik dan

kreatif. Ia tidak hanya berusaha untuk meramalkan tentang corak dan bentuk

masa depan ideal yang diinginkannya, lebih dari ia berusaha untuk mewujudkan

cita-citanya itu.

Russell (1989: 1) mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan

masyarakat yang tidak mereka ciptakan. Struktur sosial, ekonomi, dan politik

merupakan faktor penentu, faktor itu dapat memperlancar atau menghambat

perkembangan biografis mereka. Maka untuk memahami sejarah individu, perlu

dimengerti matriks institusional atau struktur yang membentuk latar belakang

atau pilihan-pilihan hidupnya. Agar para individu dapat memahami sejarah

mereka, maka hendaknya mereka berpegang teguh pada struktur yang jelas, yaitu

tentang struktur mana yang mendukung atau memajukan kebebasan semua

tindakan mereka.

Patrick Gardiner (1985: 123-124) mengatakan bahwa ungkapan filsafat

sejarah menunjukkan kepada dua jenis penyelidikan yang sangat berbeda. Secara

tradisional ungkapan tersebut telah digunakan untuk menunjuk kepada usaha

memberikan keterangan atau tafsiran yang luas mengenai seluruh proses sejarah.

Filsafat sejarah dalam arti ini disebut “filsafat sejarah formal atau spekulatif”

yang secara khas berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “apa arti

(makna, tujuan) sejarah?” atau “hukum-hukum pokok mana yang mengatur

perkembangan dan perubahan dalam sejarah?”. Di antara tokoh-tokoh utama

yang mewakili teori semacam ini dapat disebut Vico, Herder, Hegel, Comte,

Marx, Toynbee, Sorokin dan lain-lain. Secara modern ungkapan tersebut berarti

suatu kritik terhadap filsafat sejarah formal atau spekulatif, terutama kritik dari

sudut logika maupun metodologi. Filsafat sejarah dalam arti ini disebut “filsafat

sejarah kritis” dengan tokoh antara lain Popper.

David Bebbington (1979: 17-20) membagi filsafat sejarah ke dalam lima

aliran. (1) Aliran siklus, yang berpandangan bahwa ritme perkembangan sejarah

itu tidak maju, tetapi selalu kembali seperti perputaran musim, tokoh yang

mewakili aliran ini ialah Nietzsche dan Toynbee. (2) Aliran pemikiran yang

khusus berhubungan dengan tradisi Yahudi dan Kristiani, aliran ini sangat

dipengaruhi oleh pandangan agama. Sejarah dilihat tidak hanya sebagai siklus,

akan tetapi juga sebagai gerak garis lurus, tokoh yang tergabung dalam aliran ini

ialah Agustinus dan Niehbuhr. (3) Aliran pemikiran yang melihat perkembangan

sejarah sebagai suatu proses yang bergerak secara linier ke arah kemajuan, filosof

yang mewakili aliran ini ialah Comte. (4) Aliran Historisisme, aliran ini menolak

keyakinan bahwa sejarah adalah linier. Menurut mereka perkembangan sejarah

sangat ditentukan oleh berbagai faktor dalam kebudayaan manusia, filosof yang

tergabung dalam aliran ini ialah Vico, Ranke, Collingwood. (5) Aliran yang

dipengaruhi oleh filsafat sejarah Marxisme.

John Edward Sulivan (1970: 265-290) dalam bukunya Prophets of the

Wesr; An Intruduction to the Philosophy of History, mengatakan bahwa para

filosof filsafat sejarah dalam pandangannya tentang sejarah berdasarkan pada

metafisika dan situasi yang dihadapinya pada waktu itu, dan mencoba untuk

memperlihatkan arah kecenderungan sejarah. Marx melihat proses sejarah

sebagai upaya untuk merekonstruksi sejarah manusia untuk kembali kezaman

prasejarah yang tanpa kelas. Comte mengemukakan bahwa sejarah adalah proses

perkembangan intelektual dan kebudayaan manusia. Sementara itu Spengler,

Toynbee, dan Sorokin melihat pasang surut, kembangkitan dan kehancuran

kebudayaan manusia dalam sejarah.

Berdasarkan kenyataan bahwa sejarah tidak dapat dipastikan begitu saja

perkembangannya, maka muncullah kelompok historisme-kritis yang melawan

aliran historisisme. Aliran historisisme adalah aliran filsafat sejarah yang

beranggapan bahwa ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk meramalkan perkembangan

sejarah dengan cara menentukan “ritme” atau “pola”, “hukum” atau “trend” yang

menentukan jalannya sejarah (Popper, 1985: 3).

Pandangan-pandangan tentang sejarah telah banyak ditampilkan oleh para

filosof filsafat sejarah. Hal ini menandakan bahwa filsafat sejarah ada gunanya,

terlebih bagi seorang peneliti sejarah. Ankersmith (1987: 10) mengatakan bahwa

dengan dilatarbelakangi oleh filsafat sejarah, seorang peneliti sejarah akan lebih

mampu mengadakan suatu penilaian pribadi mengenai keadaan pengkajian

sejarah pada suatu saat tertentu. Bahkan sekedar pengetahuan mengenai filsafat

sejarah mutlak perlu, agar dapat mengapresiasikan pengkajian sejarah masa kini

dengan memuaskan. Sebab pengkajian sejarah turut ditentukan oleh diskusidiskusi

antara filosof sejarah mengenai tujuan dan kemungkinan-kemungkinan

dalam pengkajian sejarah. Selanjutnya, sedikit pengetahuan mengenai filsafat

sejarah, memaparkan latar belakang bagi seorang ahli sejarah, untuk menentukan

posisinya sendiri terhadap usaha-usaha memasukkan pendekatan baru terhadap

sejarah. Dalam pengkajian sejarah terdapat banyak aliran yang oleh tiap

pendukungnya diiklankan dengan ramai sehingga perlu diadakan suatu pilihan.

Messianisme sebagai suatu pemikiran atau gagasan dalam sejarah tidak

hanya merupakan suatu spekulasi tentang kejadian-kejadian tetapi juga

merupakan suatu kekeuatan sosial yang mendorong ke arah tindakan-tindakan

untuk mengubah situasi. Situasi hendak diubah, karena dipandang sebagai situasi

krisis, penuh dengan penderitaan, kesengsaraan, kelaliman, pendeknya

menunjukkan dikadensi dan korupsi. Sangat dirasakan perbedaan besar antara

dunia dalam realitas dengan dunia ideal. Kesadaran akan hal ini menimbulkan

harapan akan perubahan yang akan mendatangkan keadilan dan kemakmuran,

renovasi dan regenerasi. Harapan itu seringkali membangkitkan sentimen

revolusioner yazng dapat diperkuat oleh ideologi keagamaan, seperti perang sabil

melawan orang kafir (Sartono, 1986: 93).

Filsafat Sejarah Hegel

Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) merupakan seorang filosof

idealis, ia yakin bahwa pikiran atau jiwa adalah realitas terakhir. Ia juga seorang

filosof monis dalam fakta, ia berpendapat bahwa setiap hal yang berhubungan

satu sama lain dalam sistem besar dan kompleks atau keseluruhan yang

disebutnya dengan absolut. Idealisme monistik sebagaimana dikemukakannya

dalam Phenomenology of Mind, membawa Hegel kepada keyakinan bahwa

hanya terdapat suatu pemikiran atau substansi mental (Collinson, 2001: 142).

Teorinya tentang kebenaran berkaitan dengan ini, karena ia berpendapat bahwa

yang riil adalah apa yang rasional dan bahwa ‘yang benar adalah keseluruhan’.

Hegel dalam buku Philosophy of Histori mengembangkan sebuah teori

yang didasarkan pada pandangan bahwa negara merupakan realitas kemajuan

pikiran kearah kesatuan dengan nalar. Ia melihat negara sebagai kesatuan ujud

dari kebebasan objektif dan nafsu subjektif adalah organisasi rasional dari sebuah

kebebasan yang sebenarnya berubah-ubah dan sewenang-wenang jika dibiarkan

pada tingkah laku individual. Uraian Hegel mengenai filsafat sejarah terdiri dari

tiga jilid. Ia membahas dunia Timur, dunia Yunani-Romawi, dan dunia

Germania. Pembagian ini didasarkan atas trias Hegel yakni roh objektif, roh

subjektif, dan roh mutlak. Dalam dunia Timur, roh belum sadar diri, manusia

masih berada dalam keadaan alami sedangkan roh berkarya dan menyusun dalam

objektifitas (seperti hukum alam). Dalam dunia Yunani-Romawi timbullah

subjektivitas, roh menempatkan diri di luar dan berhadapan dengan apa yang

secara objektif ada. Akan tetapi roh subjektif semula kurang memahami

kenyataan objektif. Baru dengan munculnya roh mutlak di dalam dunia Germania

terjadi perukunan antara yang subjektif dan yang objektif (Smith, 1987: 38-39).

Filsafat sejarah bagi Hegel representasinya yang nyata terlihat dalam

bentuk-bentuk kekuasaan di dalam negara. Negara merupakan realitas kemajuan

pikiran ke arah kesatuan dengan nalar. Ia melihat negara sebagai kesatua wujud

kebebasan objektif dan nafsu subjektif adalah organisasi rasional dari sebuah

kebebasan yang sebenarnya berubah-ubah dan sewenang-wenang jika dibiarkan

pada tingkah laku individual (Collinson, 2001: 143). Lebih lanjut dalam

pengantar bukunya Philosophy of History ia menulis:

Negara adalah ide tentang roh di dalam perwujudan lahir kehendak manusia

dan kebebasannya. Maka, bagi negara, perubahan dalam aspek sejarah tidak

dapat membatalkan pemberian itu sendiri; dan berbagai tahap yang

berkesinambungan dengan ide mewujudkan diri mereka di dalamnya

sebagai prinsip-prinsip politik yang jelas (Hegel, 2001: 65).

Negara adalah tujuan yang sesungguhnya dari manusia, tidak sekedar

sarana. Negara mendamaikan kepentingan perorangan dan masyarakat. Negara

didirikan atas ketaatan hak-hak perorangan pada kewajiban-kewajiban

masyarakat. Maka, untuk menjadi bermoral adalah hidup yang sesuai dengan

tradisi moral sesuatu negara. Tradisi-tradisi ini adalah revelasi progresif dari

kehendak universal. Bentuk tertinggi dari negara adalah dalam monarki

konstitusional (Ali Mudhofir, 2001: 225-226).

Sejarah dunia Timur bagi Hegel diawali dengan Cina karena ia adalah yang

tertua. Di Cina dan Mongolialah – dunia despotisme teokratik – sejarah dimulai.

Di Cina, raja adalah pemimpin keluarga. Hukum negara sebagian merupakan

peraturan sipil, sebagian merupakan ketentuan moral (Hegel, 2001: 154). Cina

memandang diri mereka sendiri sebagai pemilik keluarga, dan pada saat yang

sama sebagai anak negara. Di dalam keluarga itu sendiri mereka bukan

merupakan personalitas, bagi kesatuan yang tergabung di situ mereka menjadi

anggotanya, merupakan kekerabatan keluarga dan kewajiban alamiah. Di dalam

negara, mereka memiliki personalitas yang sedikit independen, dan pemerintah

didasarkan pada menejemen paternal raja, yang menguasai semua departemen

negara (Hegel, 2001: 166). Dasar keluarga juga merupakan dasar bagi konstitusi,

karena raja memiliki hak sebagai raja yang berdiri dipuncak bangunan besar

politik yang berbuat sebagaimana layaknya seorang ayah. Dia adalah kepala

keluarga, dan segala sesuatu di dalam negara yang dapat dihormati terikat dengan

dia.

Yunani yang subtansial adalah sekaligus bersifat individual. Di Yunani

ditemukan kebebasan individu, namun belum berkembang ke arah tingkat

abstraksi, sehingga kesatuan subjektif merupakan kesadaran tentang

ketergantungan langsung pada prinsip substansial (umum) – Negara sebagaimana

adanya (Hegel, 2001: 344). Perjalanan umum Dunia Romawi dapat didefinisikan

sebagai peralihan dari tempat suci batin subjektivitas ke arah sebaliknya.

Keistimewaan dalam mendirikan Negara merupakan hal penting dalam sejarah

Romawi terbentuk didasarkan pada kekuatan, harus disatukan dengan kekuatan,

bukan atas hubungan moral atau liberal, Virtus Romawi terpenting adalah

keberanian yang dikombinasikan dengan berbagai macam kekerasan yang ingkar

akan hukum (Hegel, 2001: 393).

Sejarah bagi Hegel mencapai puncak perkembangannya pada Dunia

Jerman, yang telah memasuki periode Roh menyadari bahwa ia adalah bebas,

lantaran ia menginginnkan kebenaran, Keabadian yang berada dalam dirinya dan

untuk dirinya sendiri Universal (Hegel, 2001: 564). Keselarasan antara Negara

dan gereja kini mencapai realisasi langsung. Salah satu segi terpenting dari di

dalam kondisi politik Jerman adalah kode tentang Hak yang tentunya timbul

karena penindasan Perancis, karena ini merupakan sarana yang istimewa untuk

membuka rahasia kelemahan sistem lama. Jabatan kenegaraan terbuka bagi setiap

warga negara, bakat dan penyesuaian diri tentu saja merupakan kondisi yang

diperlukan. Akhirnya seperti pada watak, di dalam gereja Protestan rekonsiliasi

antara Agama dengan Hukum telah berlangsung. Di dalam dunia Protestan di

sana tidak ada yang suci, tidak ada pemisahan kesadaran keagamaan di dalam

negara, bahkan juga tidak sikap permusuhan terhadap Hak Sekuler (Hegel, 2001:

623).

Sejarah Dunia tidak lain merupakan perkembangan Ide tentang Kebebasan.

Filsafat mengaitkan dirinya hanya dengan kemudian Ide yang mencerminkan

dirinya dalam Sejarah Dunia. Sejarah dunia, dengan seluruh adegannya yang

berubah yang ditampilkan tarikhnya, adalah proses perkembangan ini dan

perealisasian Roh, dan ini merupakan Theodiciae yang sebenarnya, peneguhan

Tuhan dalam sejarah. Hanya pengetahuan ini yang dapat mendamaikan Roh

dengan Sejarah Dunia – yaitu bahwa apa yang akan terjadi, dan yang sedang

terjadi setiap hari, tidak hanya bukan “tanpa Tuhan”, melainkan benara-benar

merupakan karya-Nya (Hegel, 2001: 624).

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/39/35

Rabu, 04 Maret 2009

Pendahuluan Filsafat

Pendahuluan Filsafat
Yang dibahas disini terutama filsafat Barat, karena misalnya filsafat India dan filsafat Cina lebih bersifat mengajar bagaimana manusia mencapai "keselamatan" ("moksa"), atau bagaimana manusia harus bertindak supaya diperoleh keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tak dapat diungkiri didalamnya juga ada unsur akal, tetapi bukan produk dari refleksi yang sifatnya kritis rasional.
Ada empat periode besar dalam filsafat Barat:
(A). Zaman Yunani (600 sM - 400 M)
(B). Zaman Patristik dan Skolastik (300 M - 1500 M)
(C). Zaman Modern (1500 M - 1800 M)
(D). Zaman sekarang (setelah 1800 M).
Patut dicatat bahwa tiap zaman memiliki ciri dan nuansa refleksi yang berbeda. Dalam zaman Yunani diletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Zaman Patristik dan Skolastik ditandai oleh usaha yang gigih untuk mencari keselarasan antara iman dan akal, karena iman di hati, dan akal ada di otak. Tidak cukuplah sikap credo quia absurdum = "aku percaya justru karena tidak masuk akal" Tertulianus, 160-223 M. Dalam Zaman Modern direfleksikan berbagai hal tentang rasio, manusia dan dunia. Jejak pergumulan itu terdapat dalam aliran-aliran filsafat dewasa ini.
1 Zaman Yunani
Plato
1.1 filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu ("arche" = ). Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air. Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir ("panta rei" = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu? Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga. Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.
1.2 Puncak zaman Yunani dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan (384-322 sM).
1.2.1 Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk "melahirkan" pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. -- Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.
Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai "sophis" ("yang bijaksana dan berapengetahuan"), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates "menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah". Karena itu dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda" dan dibawa ke pengadilan kota Athena. Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.
1.2.2 Plato menyumbangkan ajaran tentang "idea". Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, ... bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, ... kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak.
Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, -- konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.
Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Itu persoalan ada ("being") dan mengada (menjadi, "becoming").
1.2.3 Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu "berubah" (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.
Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles idak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles pada manusia tidak ada idea-bawaan.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata logikoz, dan logoz berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.
Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih "hylemorfisme": apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material ("hyle") sana-sini dari bentuk ("morphe") yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan ("dynamis", Latin: "potentia") untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang "tetap" dan yang "berubah".
Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah "pria yang belum lengkap". Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah "ladang", yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah "yang menanam". Dalam bahasa filsafat Aristoteles pria menyediakan "bentuk", sedang wanita menyumbangkan "substansi".
Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama "jiwa" ("psyche", Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat "mengamati" dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup "mengerti" dunia dalam dirinya. Jiwa manusia dilengkapi dengan "nous" (Latin: "ratio" atau "intellectus") yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima "logoz". Itu membuat manusia memiliki bahasa.
Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya. Pengaruhnya terasa sampai kini, -- itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga. -- (Catatan kecil saja dari FSP: Maka jangan terkejut jika pandangan berat-sebelah tentang pria-wanita sangat dominan sampai kini. Legitimasi filsafati agaknya telah diberikan oleh Arsitoteles atas praktek yanh umum di dalam masyarakat Timur Tengah, Eropa abad pertengahan dan dimana saja. Gereja Katolik pun selama berabad-abad mengikuti pendirian yang sama, sekalipun landasan biblisnya sama sekali tidak ada. Yesus, sebagaimana tampak dalam Injil, memiliki pandangan yang sama sekali tidak berat-sebelah tentang gender.)
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon ("alat") untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.
1.3 Zaman Yunani pasca- Aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme. Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: "kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita".
Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M). Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos to en = "to hen", yang esa, "the one". Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang esa adalah pusat daya, -- seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya. Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.
Dari to en mengalir nouz = "nous", budi, akal, bahkan roh (?). "Nous" merupakan "bayang-bayang" dari "to hen". Dari "nous" mengalir ynch = "psykhe", jiwa, yang merupakan perbatasan "nous" dengan mh ou = "me on", materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh. "Psykhe" merupakan penghubung antara "nous" yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani. -- Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada "to hen", dan itulah tujuan hidup manusia. "To hen" kiranya identik dengan konsep "Sang Sangkan Paraning Dumadi" dalam tradisi Jawa.
Kesatuan mistis dengan "to hen" merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).
Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau "jiwa kosmik". Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu. Mereka jutru mengalami rasa "penyatuan dengan Tuhan". Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia "kehilangan dirinya", dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.
Tetapi pengalaman mistik itu tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan "pencucian dan pencerahan" untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam "agama" Jawa dikenallah konsep "manunggaling kawula lan Gusti", yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan oleh Zoetmulder. (Zoetmulder SJ almarhum adalah Guru Besar di Fakultas Sastra UGM).
2 Zaman Patristik (Para Bapa Gereja)
Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme. Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang ("lumens") dari Allah. Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = "imago Dei" (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.
"Tuhan, engkau lebih tinggi daripada yang paling tinggi dalam diriku, dan lebih dalam daripada yang paling dalam dalam batinku" -- itu ungkapan Agustinus tentang pengalaman manusia mengenai transendensi dan imanensi Allah dalam satu rumusan. Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks "Aku Percaya" yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas -- tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.
Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. "Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka". Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia. Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti "tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada". Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.


http://www.te.ugm.ac.id/~fsoes/sg/Bab%204.%20Sejarah%20filsafat%20(1).doc