A. Pendahuluan
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), khususnya teknologi sekarang ini yang telah ada di Indonesia telah memberikan dampak positif dalam aspek kehidupan manusia termasuk dengan aspek pendidikan. Seharusnya dalam berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri ini, juga dibarengi dengan berkembangnya bidang pendidikan yang dapat mewujudkan Indonesia menjadi Negara yang maju. Keberhasilan berkembangnya bidang pendidikan sangat tergantung pada proses pembelajaran yang dilakukan. Keberhasilan proses pembelajaran tersebut tergantung dari kemampuan guru untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai informan, fasilitator, dan komunikator.
Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain meliputi faktor: motivasi guru dan siswa, kreativitas guru dan siswa, kesiapan belajar siswa dan penyampaian materi ajar oleh guru, sarana pendukung pembelajaran, lingkungan belajar, cara siswa belajar, dan cara guru mengajar (Sukarman, 2002:1). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan menunjukkan bahwa meskipun mata pelajaran matematika diajarkan dengan presentase jam pelajaran lebih banyak daripada mata pelajaran lain , namun prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika relative rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.
Pada umumnya guru mengajar dengan metode yang monoton, sehingga siswa seringkali merasa jenuh, terutama pada mata pelajaran matematika. Banyak siswa yang menganggap bahwa matematika adalah mata pelajaran yang paling sulit dan membosankan sehingga matematika bagi kebanyakan siswa merupakan mata pelajaran yang kurang diminati dan mungkin menakutkan atau kalau perlu dihindari. Oleh karena itu, guru harus berusaha menumbuhkan minat atau rasa cinta terutama pada pelajaran matematika pada siswa. Pikiran siswa sebaiknya diarahkan untuk ikut aktif dalam pembelajaran matematika.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dalam diri siswa itu (terutama kemampuan yang dimilikinya) dan faktor yang datang dari luar diri siswa (faktor lingkungan). Hasil belajar di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan (Clark, 1981). Faktor yang berasal dari luar antara lain seperti: motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, social ekonomi, faktor fisik dan faktor psikis (Nana Sudjana, 1989:39-40).
Hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru antara lain dengan menerapkan strategi dan metode yang sesuai dengan materi yang diberikan. Selain itu, guru juga dituntut untuk dapat menyampaikan materi yang lebih menarik kepada siswa, sehingga siswa merasa gembira, dapat ikut aktif, terbawa, dan bersemangat dalam menerima materi yang diberikan guru, yang nantinya akan menimbulkan minat terhadap mata pelajaran yang dipandang sebelumnya membosankan, terutama pada mata pelajaran matematika. Untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan dengan siswa, yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan akan membangun jembatan menuju tumbuhnya minat siswa untuk belajar matematika. Semakin besar minat siswa terhadap matematika, maka semakin besar perhatian, hasrat, dan kemauannya untuk belajar matematika. Pada akhirnya dapat tercapai tujuan belajar matematika.
Untuk itu, sekiranya bagi guru – guru untuk berupaya agar pembelajaran di kelasnya dapat berpusat pada siswa bukan pada gurunya, selain itu juga agar siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika.
B. Pembahasan
Menurut Mahmun Zulkifli (2008) pengertian dan landasan Quantum adalah interaksi yang mengubah energi manjadi cahaya, sedangkan teaching adalah pengajaran. Jadi Quantum Teaching dapat diartikan sebagai orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalamdan sekitar moment belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan belajar siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah peserta didik menjadi cahaya yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain.
Pembelajaran Quantum Teaching bersandar pada konsep : ”Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.” Inilah asas dibalik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching.
Lima prinsip dalam Quantum Teaching :
1) Segalanya berbicara
Segalanya dalam lingkungan kelas hinggga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
2) Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan. Dalam hal ini, tujuan merupakan pedoman dalam mengambil langkah mulai dari tahap perencanaan hingga tahap pelaksanaan.
3) Pengalaman sebelum pemberian nama
Otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka ajari.
4) Akui setiap usaha
Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapatkan pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
5) Jika layak dipelajari, maka layak di rayakan
Perayaan adalah sarapan bagi juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar (De Porter, dkk, 2000:7-8).
Untuk menarik ketertiban siswa, guru harus membangun hubungan, yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia baru siswa. Membina hubungan dapat memudahkan untuk melibatkan siswa, memudahkan pengelolaan kelas, memperpanjang waktu focus, dan meningkatkan kegembiraan.
Menurut De Porter,dkk (2000:26) dalam Quantum Teaching terdapat set prinsip yang disebut 8 kunci keunggulan. Dalam 8 kunci keunggulan tersebut menyediakan cara yang bermanfaat untuk mendapatkan keselarasan dan kerjasama. 8 kunci keunggulan tersebut adalah :
1. integtritas : bersikap jujur, tulus menyeluruh selaraskan nilai-nilai dengan perilaku kita.
2. kegagalan awal kesuksesan
:
pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang anda butuhkan untuk sukses.
3. bicaralah dengan niat baik
:
berbicaralah dengan pengertian positif dan bertanggungjawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus.
4. hidup saat ini : pusatkan perhatian anda pada saat sekarang ini dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.
5. komitmen : lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan anda
6. tanggung jawab : bertanggung jawablah atas tindakan anda
7. sikap luwes/fleksible
:
bersikaplah terbuka terhadap perubahan/ pendekatan baru, hal ini membantu anda dalam memperoleh hasil yang diinginkan
8. keseimbangan : jaga keselarasan pikiran tubuh jiwa anda
Nilai-nilai Quantum Teaching dalam pengembangan pembelajaran di sekolah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu konteks dan isi. Dari sisi konteks, nilai-nilai Quantum Teaching dalam pengembangan pembelajaran di sekolah mencakup beberapa hal sebagai berikut:
1. Suasana yang memberdayakan
Suasana yang memberdayakan berkaitan dengan bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan peserta didik, dan sikap terhadap sekolah dan belajar. Untuk membangun suasana yang memberdayakan atau menggairahkan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a. Niat
Niat kuat kepercayaan seorang guru akan kemampuan dan motivasi peserta didik melakukan yang terbaik. Sikap ini sangat berpengaruh terhadap iklim belajar dan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, guru harus menganggap atau memandang semua peserta didik merupakan siswa-siswa yang unggul, yang dapat mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin. Guru tidak boleh memandang peserta didik bodoh karena keyakinan seseorang akan kemampuan dirinya sangat berpengaruh kepada kemampuan diri itu sendiri.
b. hubungan.
Untuk menarik keterlibatan peserta didik, guru harus membangun hubungan dengan cara menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Untuk itu, perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat, ketahuilah apa yang disukai oleh peserta didik, cara fikir mereka, perasaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka, berbicaralah dengan jujur kepada mereka. Dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian ini dapat memudahkan pengelolaam kelas dan meningkatkan kegembiraan. Untuk itu guru perlu menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran, dengan cara menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
ü Apa yang akan dikuasai oleh peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung.
ü Bagaimana peserta didik menggunakan apa yang dikuasainya ke dalam kehidupan sehari-hari (Contextual Learning).
ü Bagaimana suatu yang dikuasainya itu dapat melengkapi, manambah, atau berintegrasi dengan apa yang telah dikuasai sebelumnya.
ü Bagaimana prosedur yang harus diikuti atau kegiatan yang harus dilakukan peserta didik agar ia mencapai tujuan pembelajaran.
ü Bagaimana cara penilaian yang akan diberikan kepada peserta didik dalam pelajaran tersebut, atau apa keuntungan peserta didik bila ia mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
c. keriangan dan ketakjuban
Keriangan dan ketakjuban dapat membawa kegembiraan dalam proses pembelajaran, sehingga menjadi lebih menyenangkan dan santai. Menyenangkan berarti suasana kelas penuh diliputi suasana demokrasi. Peserta didik bebas menyampaikan gagasan-gagasan dalam berpendapat. Peserta didik tidak dliputi rasa takut dalam menyampaikan pertanyaan. Guru dalam merespon peserta didik senantiasa menanggapi dengan gaya dan bahasa yang penuh motivasi dan empati. Pembelajaran yang menyenangkan dan santai dapat membuat peserta didik siap belajar dengan lebih mudah dan bahkan dapat mengubah sikap negatif terhadap pelajaran yang diajarkan.
2. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan kelas harus ditata dengan baik sehingga mendukung proses belajar yang menyenangkan, hidup dan penuh semangat. Lingkungan kelas seperti ini akan mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk berkonsentrasi dalam menyerap informasi. Menata lingkungan kelas dapat dilakukan dengan membuat poster, pewarnaan, alat bantu dalam proses pembelajaran, susunan bangku atau musik.
C. Penutupan
Menjadi seorang guru merupakan profesi dengan tantangan yang berat demi usaha untuk memperbaharui generasi masa depan yang dapat membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Dalam Quantum Theacing terdapat 8 kunci keunggulan yang dapat menmbuat siswa dapat menjadi berkembang dan menjadi lebih siap dalam menmghadapi berbagai persoalan.
Selain itu, dalam Nilai-nilai Quantum Teaching, pengembangan pembelajaran di sekolah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu konteks dan isi. Dari sisi konteks, nilai-nilai Quantum Teaching dalam pengembangan pembelajaran di sekolah mencakup suasana yang memberdayakan, berkaitan dengan bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan peserta didik, dan sikap terhadap sekolah dan belajar. Terdapat niat, kepercayaan seorang guru akan kemampuan dan motivasi peserta didik melakukan yang terbaik yang dapat mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin. Terdapat hubungan, untuk menarik keterlibatan peserta didik dengan cara menjalin rasa simpati dan saling pengertian yang dapat memudahkan pengelolaam kelas dan meningkatkan kegembiraan.
keriangan dan ketakjuban, membawa kegembiraan dalam proses pembelajaran sehingga menjadi lebih menyenangkan dan santai. Peserta didik bebas menyampaikan gagasan-gagasan dalam berpendapat. Peserta didik tidak dliputi rasa takut dalam menyampaikan pertanyaan yang dapat membuat peserta didik siap belajar dengan lebih mudah dan bahkan dapat mengubah sikap negatif terhadap pelajaran yang diajarkan.
Lingkungan yang mendukung, akan mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk berkonsentrasi dalam menyerap informasi. Menata lingkungan kelas dapat dilakukan dengan membuat poster, pewarnaan, alat bantu dalam proses pembelajaran, susunan bangku atau musik.
Semoga usaha yang dilakukan guru dalam pembelajaran, khususnya untuk pembelajaran matematika ini dapat membuat generasi masa depan yang mampu mengubah bangsa Indonesia menjadi negara yang maju, adil, dan makmur. Amiin.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M.(1987).Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Ambarwati, Nurfika.(2006).PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN QUANTUM TEACHING DI SMP NEGERI 2 MONDOKAN SRAGEN TAHUN AJARAN 2005/2006.Surakarta:UMS.
DePorter dan Hernacki.(1999).Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (terjemahan Alwiyah Abdurahman).Bandung: Kaifa.
DePorter, dkk.(2000). QuantumTeaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas (Terjemahan Ary Nilandari).Bandung:Kaifa.
Kamis, 18 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
